Bukan Sekadar Bisa Buat Mukena dan Kerudung
Kalau kita membaca riwayat orang-orang sukses berwirausaha, semua membagi kiat yang sama yaitu ketekunan, kesabaran dan keiklasan melakukan yang terbaik. Semangat itu pula yang diharapkan Kepala Subdirektorat Pembelajaran dan Peserta Didik Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) RI, Elih Sudyapermana, ada pada ibu-ibu peserta pelatihan kerudung dan mukena yang diselengrarakan kerjasama Laznas BMT ICMI dan Kemendiknas RI di ICMI Center, Jakarta (24/11). “Jadi ibu-ibu bukan sekadar bisa membuat mukena dan kerudung. Tapi bagaimana keterampilan ini ketika kita iklaskan pelajari dan lakukan, akan memberi makna. Baik secara ekonomi maupun sosial budaya.” ujarnya dalam pembukaan pelatihan program Pembelajaran Aksara Kewirausahaan tersebut.
Bentuk Kelembagaan
Tanpa ada kesadaran yang utuh itu, lanjut Elih, pelatihan seperti ini tidak akan maksimal dan berkesinambungan “Besok lusa setelah ditinggalkan pendampingnya, biasanya selesai dan punah. Ini pengalaman kami. Karena itu saya berharap ibu-ibu betul-betul mengukuhkan tekad. Bahwa ini bagian dari ibadah kita meningkatkan kualitas diri dan lingkungan,” harapnya. Karena itu, imbuhnya, peran pendamping pun sangat penting terutama dalam konsultasi tantangan dan kesulitan hingga mendukung keberhasilan di masa mendatang.
Menurut Presidium ICMI, Marwah Daud Ibrahim, cara terbaik untuk keberlanjutan kegiatan tersebut adalah dengan membentuk lembaga agar terorganisir. “Saya usul ini diformalkan menjadi klaster-klaster kewirausahaan kerudung dan mukena. Jadi makin spesifik. Kita bangun kelembagaan dan dibuatkan badan hukumnya. Kalau perlu kita lapor ke Kesbang atau urusan-urusan terkait kelembagaan, ”jelasnya.
Selanjutnya imbuh Marwah, kita membangun kebersamaan dari masing-masing kelompok usaha tersebut dengan menjalin kerjasama, bukan malah bersaing. “Yang penting merk dan kualitasnya harus sama. Yang diperlukan kemudian adalah standar, ketika memakai merk, barcode, kain, benang, jarak jahit yang sama,” sebutnya
Hal tersebut penting terutama dalam menerima pesanan dalam jumlah besar sehingga bisa tertangani. Marwah menyontohkan Cina yang juga menerapkan hal serupa. Dalam satu daerah atau desa memproduksi barang yang sama Ketika mereka memilih satu saja komoditi yaitu tusuk gigi, satu desa bekerjasama memproduksi. “Boleh tanya sekarang tusuk gigi dan tusuk sate dari mana? Bambu dan lidi banyak di sini dibuang-buang. Jadi jika masing kita mengerjakan tugas dengan baik. Kelihatan kecil tapi hasilnya bisa sangat besar kalau kita berfikir besar dan kerjasama,” pungkasnya.
Popularity: 7% [?]








