Ramadan antara berkah dan musibah
Oleh: Nurudin Abdullah & Th.D.Wulandari
Siang itu sebagian besar sopir mikrolet M03A trayek Karet-Roxy Mas, tak bersemangat membawa kendaraannya melalui kawasan Pasar Tanah Abang. Selama sepekan sebelum Ramadan, kemacetan di sepanjang jalan depan Pasar Blok A Tanah Abang, telah membuyarkan angan-angan sebagian besar sopir M03A meraih banyak uang untuk Lebaran tahun ini.
Bisa Kena Macet 1 Jam
Dengan hanya mengangkut rata-rata tak lebih enam penumpang, supir M03A memilih melalui underpass Pasar Tanah Abang untuk menghindari kemacetan di depan Pasar Blok A Tanah Abang. “Kalau lewat atas [Blok A Tanah Abang] memang banyak penumpang tapi bisa kena macet 1 jam,” kata Agus, salah seorang sopir M03A beralasan.
Alasan Agus ada benarnya. Selama sepekan menjelang Ramadan, Jalan KH Mas Mansyur Tanah Abang macet. Waktu tempuh Tanah Abang-Karet yang biasanya sekitar 20 menit, bisa lebih dari 45 menit jika melalui jalur semestinya.
Nasib Agus, dan sebagian besar sopir M03 lainnya, berkebalikan dengan Yasril Umar, pemilik kios Madina. Yasril yang juga menjabat Ketua I Koperasi Pedagang Pasar Tanah Abang Syariah mengatakan sepekan menjelang Ramadan nilai transaksi semua kios di Tanah Abang melonjak tajam. Dia menghitung nilai transaksi di kawasan Pasar Tanah Abang diperkirakan mencapai lebih dari Rp8 miliar per hari. Asumsinya, setiap satu kios di pasar terbesar di Asia Tenggara itu bisa meraih omzet Rp1 juta per hari.
Namun, omzet akan merosot kembali saat hari pertama dan kedua Ramadan karena banyak orang enggan bepergian saat awal puasa. “Suasana pasar menjadi ramai pengunjung lagi dimulai pada hari ketiga dan keempat Ramadan hingga mendekati Lebaran nanti,” ucap Yasril. Dia juga menegaskan kondisi ekonomi yang kurang baik pascamasa kenaikan berbagai tarif dan harga telah berimbas kepada nilai transkasi di pasar utama itu.
Kondisi berbeda terjadi di Pasar Cipulir, Jakarta Selatan. Faridah, seorang pedagang pakaian wanita di Pasar Cipulir, menceritakan pada hari pertama puasa kiosnya justru ramai. Pengunjung yang berbelanja umumnya berasal dari wilayah Jabodetabek dan daerah sekitar yang merupakan pembeli sekaligus pemakai.
“Kalau mereka yang berbelanja untuk dijual lagi sudah berdatang selama sepekan yang lalu dan yang dari luar Pulau Jawa sudah datang sebulan yang lalu dan kalau ada kurang tinggal telepon saja kemudian kami kirim,” kata Faridah. Sebagian pelanggannya berasal dari beberapa daerah di Provinsi Banten yang datang dengan menumpang kereta api. Pelanggannya tinggal turun di Stasiun Kebayoran Lama untuk berbelanja di Pasar Cipulir atau langsung ke Stasiun Tanah Abang.
Asistem Menajer Regional I PD Pasar Jaya, Yusuf Noor, mengatakan pengunjung Pasar Tanah Abang, Pasar Jatinegara Jakarta Timur dan Pasar Cipulir membeludak dalam sepekan yang lalu dengan puncak kepadatan terjadi pada sehari sebelum bulan Ramadan. Hampir semua jalan di tiga pasar yang dikelola PD Pasar Jaya macet sehingga orang pun kesulitan untuk sekadar berpapasan. “10 Agustus kepadatan pengunjung mencapai puncaknya sehingga orang sulit berjalan di dalam pasar dan lalu lintas di sekitar pasar sangat macet,” ujar Yusuf.
Barang China
Bila hampir semua pedagang di pusat grosir panen rezeki di musim Lebaran, hal berbeda terjadi di pusat grosir Pasar Pagi Mangga Dua. Sebagian pedagang di pusat grosir itu menyatakan tidak berani menimbun stok barang karena sepi order. “Tahun lalu saya bisa jual barang grosiran. Sebelum Puasa banyak pesanan, tapi sekarang jual eceran bisa laku saja sudah syukur,” ujar Pau, pemilik toko Hendy Jaya yang terletak di muka Pasar Pagi Mangga Dua.
Membanjirnya pusat perbelanjaan yang juga menjual barang murah pascapenerapan China-Asean Free Trade Area (CAFTA) memicu bisnis toko pakaian jadi yang sudah dijalankan orangtuanya sejak 20 tahun lalu melorot. Dahulu pelanggan utama Hendy Jaya adalah para reseller pakaian jadi dari luar kota. Namun, mereka tidak lagi bisa bersaing harga sejak ketentuan impor barang China bisa masuk secara bebas. “Siapa saja bisa datangkan barang dari China, jadi pedagang luar kota pilih impor barang langsung dari sana daripada beli dari Jakarta karena untungnya besar,” ujarnya. (hwi)
sumber: bisnis.com
Popularity: 5% [?]








